Dapat sempurna jika kita ketemu dengan 'soulmate' kita?
A: Lo tau gak sih? Tentang pemikiran kalo 'kita hanya dapat sempurna jika kita ketemu dengan soulmate kita' itu pemikiran yang jahat banget.
B: Maksudnya?
A: Iya, itu jahat banget! Pertama, bagaimana kita bisa tau kalau itu soulmate kita? Bagaimana kita bisa yakin, terhadap orang yang kita cintai bahwa dia... Memang 'the one'. Lagian, apa pula konsep 'the one' itu?
B: Gue ngerti maksud lo. (Padahal gue gak ngerti sama sekali)
A: Kenapa sih kita baru bisa di bilang komplit kalo ada kehadiran orang lain itu? Kenapa gak dengan kehadiran sebuah barang, atau... atau hobi, baru kita bisa di bilang komplit? Kenapa harus di hubungkan dengan orang lain? Kenapa kesempurnaan hidup kita 'sebagai manusia' harus di tandai bahwa kita udah bisa ketemu dengan 'soulmate' kita?
- Raditya Dika
Pada akhirnya, orang yang jatuh cinta diam-diam hanya bisa mendoakan. Mereka cuma bisa mendoakan, setelah capek berharap, pengharapan yang ada dari dulu, yang tumbuh dari kecil sekali, hingga makin lama makin besar, lalu semakin lama semakin jauh. Orang yang jatuh cinta diam diam pada akhirnya ‘menerima’. Orang yang jatuh cinta diam-diam paham bahwa kenyataan terkadang berbeda dengan apa yang kita inginkan. Terkadang yang kita ingikan bisa jadi yang tidak kita sesungguhnya ‘kita butuhkan’. Dan sebenarnya, yang kita butuhkan hanyalah merelakan. Orang yang jatuh cinta diam-diam hanya bisa, seperti yang mereka selalu lakukan, ‘Jatuh Cinta Sendirian’.
“
| — | -Raditya Dika |


